Teknologi FLNG – Part 1 (Project Planning, Safety Management, dan Code Application)

Posted: September 5, 2011 in Marine, Oil & Gas
Tag:, , , , , , ,

Alur Implementasi Proyek

Seperti umumnya alur implementasi proyek-proyek pengembangan lapangan di industri migas, beberapa tahapan utama berikut juga akan mewarnai proyek pengembangan FLNG, diantaranya: Planning (Feasibility study & Pre-FEED) – Front End Engineering Design (FEED) – Eksekusi Proyek (EPCI) – Operation & Maintenance – De-commisioning.

Jadwal Proyek Pengembangan FLNG (Contoh)


Feasibility Study (FS)

Feasibilty study secara sederhana merupakan suatu cara investigasi berbagai kemungkinan bahwa suatu ide (as a business) layak untuk dilanjutkan sebagai sebuah proyek. FS biasanya dilakukan beberapa kali dengan tingkat ketepatan (level of precision) yang berbeda-beda. FS diantaranya meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

Front End Engineering Design (FEED)

Setelah penyelesaian FS, maka langkah berikutnya akan dilakukan FEED untuk menentukan basic engineering dari fasilitas yang akan dibangun. FEED mencakup perhitungan kasar berbagai unsur teknis, jadwal dan biaya investasi yang akan dibutuhkan dalam pengembangan konsep FLNG.

Skema berikut menjelaskan perbedaan FS – Pre-FEED – dan FEED (sumber JOGMEC):

Engineering, Procurement, and Construction (EPC)

Berdasarkan pada kebutuhan dan hasil FEED, desain fasilitas dan integritas ruangnya akan diwujudkan secara lebih mendalam, parallel dengan mempertimbangkan jadwal proyek yang disediakan, proses pengadaan (procurement), construction, commissioning, dan maintenance.

Kandungan FEED

Secara sederhana FEED berisikan beberapa informasi sebagai berikut:

Salah satu bentuk interface dalam proses FEED FLNG antara Contractor, Classification Society dan pihak konsultan.

FLNG vs LNG Carrier dan FPSO

Visualisasi sederhana yang menggambarkan bahwa FLNG merupakan gabungan konsep LNG Carrier dan FPSO

Perbandingan Konsep antara LNG Ship dan FLNG

(Sumber ClassNK)



Perbedaan antara FPSO dan FLNG (sumber ClassNK)


Beberapa faktor utama resiko dari sisi teknis, antara FPSO dan FLNG adalah berbeda. Dari sudut resiko operasi maritim (collision, loss of buoyancy) secara keseluruhan, FLNG memiliki resiko yang lebih besar karena karakteristik produk yang ada, sebagai contoh cryogenic liquid akan membentuk gas cloud bila di release kelingkungan bebas).

Perhatian Utama pada Desain FLNG

Ada beberapa hal penting yang patut menjadi perhatian dan membutuhkan perhatian lebih lanjut pada saat mempertimbangkan fasilitas LNG Floating.

1. Project planning

  1. Safety management (Risk Assessment in FEED)
  2. Maintenance management
  • Structural Safety
  • Inspection access and Protection of corrosion
  • Condition monitoring system
  1. Codes and standards application

2. Technical challenges

  1. Cargo containment system selection
  2. LNG offloading system selection
  3. Topsides

Project Planning

Semua hal bersifat “countermeasures” yang direkomendasikan dari FEED safety risk assessment harus diaplikasikan kedalam desain plant. Diantaranya :

1. Safety management

  1. Countermeasure against accidents or damages
  • Fire and Explosion
  • Cryogenic liquid leak protection
  • Ship collisions
  • Dropped objects, etc.
  1. Environmental impact

2. Maintenance management

  1. Structural safety
  2. Inspection access and Protection of corrosion
  3. Condition monitoring system

3. Codes and standards application

4. Cargo containment system selection

5. LNG offloading system selection

6. Topsides

  1. Topsides plant layout
  2. LNG liquefaction process selection

Safety Management Risk Assessment



Accident Scenarios (contoh)

Ledakan (Explosion)/ Jet Fire

FLNG merupakan fasilitas yang menangani flammable gas pada tekanan yang sangat tinggi dan diprediksi akan terdapat banyak titik kebocoran cryogenic liquid di topside liquefaction plant.

Struktur topside harus desain dengan kekuatan yang memadai sehingga tidak roboh dan menyebabkan kerusakan pada tangki penyimpanan cargo.

Proteksi terhadap kebakaran dan ledakan harus disediakan di atas dek utama kapal untuk mencegah lepasnya liquid hydrocarbon menyebar ke area lain.

Bentuk pemisahan fisikal antara area proses dan area lain harus dipertimbangkan dan bentuk penghalang fisik juga harus disediakan untuk melindungi personil dari potensi radiasi.

Guidelines Safety Layout Secara Umum


Pada saat perencanaan layout FLNG, faktor keselamatan harus dijadikan pertimbangan utama mengingat layout dari seluruh instalasi harus dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja. Hal ini dapat dicapai melalui penempatan instalasi yang tepat dan pemisahan area-area peralatan, dengan contoh sebagai berikut:

  • Area proses harus dipisahkan dari bagian atas tangki penyimpanan cargo dengan menggunakan deck plate dan ruang udara yang cukup diatas dek.
  • Ruang penyimpanan cargo (LNG, LPG, dan Condensate) area harus didesain di dalam lambung kapal pada tekanan atmosfir.
  • Peralatan (vessel, piping, receivers, etc) yang memuat hydrocarbon harus dilindungi pengaruh luar seperti benda jatuh.
  • Pemisahan antara flammable hydrocarbon dan sumber api harus dilakukan secara maksimum.
  • Living Quarter harus ditempatkan di area yang paling aman.
  • Perencanaan jalan keluar dan evakuasi harus disediakan dengan baik.

Manajemen Perawatan

Berikut ditampilkan statistic kerusakan lambung kapal secara umum dibandingkan berdasarkan usia kapal (sumber ClassNK):

Keselamatan Struktur:

Berdasarkan faktor-faktor penyebab kerusakan struktur lambung diatas, berikut merupakan beberapa aspek pertimbangan desain struktur yang berbeda antara LNG Carrier dan FLNG:

Corrosion and Fatigue

Berdasarkan kondisi operasi yang ada dan dengan keterbatasan tanpa dry docking, merupakan hal yang sulit untuk melakukan pergantian struktur baja FLNG di laut. Bila perbaikan dibutuhkan, maka kita dihadapkan pada konsekuensi yang tinggi, sehingga pertimbangan detail desain lambung dan corrosion control yang cukup, dapat mengurangi resiko dari sudut kekuatan struktur dan kebutuhan pekerjaan panas di lapangan.

Berdasarkan pertimbangan diatas, maka merupakan hal yang wajar bila owner/ operator membutuhkan kekuatan struktur yang lebih baik menghadapi kegagalan fatique, karena gangguan di masa operasi adalah kritikal dan perbaikan di lapangan sangat sulit.

Untuk menghadapi hal tersebut, maka analisa kekuatan fatigue yang reliable dan akurat, sesuai dengan umur desain kapal dan berdasarkan pada kondisi lapangan (modifikasi parameter class rule terhadap hasil perhitungan hidrodinamika) harus dipertimbangkan. Beberapa hal lain yang patut dipertimbangkan adalah :

  • Area dimana akses untuk inspeksi, perawatan, dan perbaikan sangat terbatas.
  • Interface antara struktur lambung utama dengan hull appendage seperti topside, turret, offloading system, dll.

Interface dengan Appendage

Berikut merupakan fasilitas pemodelan dan perhitungan kekuatan struktur dengan menggunakan software PrimeShip (sumber ClassNK):

Analisa Hidrodinamika dan Olah Gerak Kapal

Untuk perhitungan analisa hidrodinamika dan olah gerak kapal, maka dibutuhkan beberapa parameter sebagai berikut:

Evaluasi respon structural secara akurat melalui verifikasi mendalam dapat dilakukan dengan cara analisa dan tes pemodelan.

Relativitas olah gerak kapal harus dipertimbangkan sesuai dengan kondisi lapangan dimana FLNG itu berada :

Sistem Monitoring Condition

Sistem monitoring utama yang diaplikasikan pada struktur FLNG antara lain : Fatigue strength dan Coating Condition

Total Ship Care Service

Beberapa aspek monitoring kondisi kapal yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan software PrimeShip (courtesy ClassNK)

Condition Assessement Program (CAP)

Secara luas skema penilaian keselamatan struktur dan permesinan di FLNG secara periodic dapat dilakukan dengan mengadopsi sistem CAP oleh Biro Klasifikasi Kapal. CAP merupakan seri kegiatan perawatan terprediksi dari hulu ke hilir yang meliputi analisa desain dan review , monitoring, site survey, hingga keputusan perbaikan.

Code dan Rule yang Dipakai pada FLNG

Secara praktis FLNG akan mengadopsi berbagai code dan rules yang berlaku pada fasilitas bangunan laut seperti FPSO maupun kaidah-kaidah desain Kapal LNG yang ditetapkan IMO di dalam Gas Carrier Rules (IGC Code). Disamping itu pertimbangan juga akan diberikan terhadap pemenuhan peraturan-peraturan lain yang lazim berlaku di bidang kelautan seperti bendera dan kebangsaan kapal, peraturan kepelabuhanan, Safety of Life at Sea (SOLAS), Marpol, Load lines,dll.

Diatas adalah contoh beberapa peraturan klas yang berlaku pada pengembangan FLNG (courtesy dari ClassNK).

Komentar
  1. Putut Panji Utomo mengatakan:

    dear cak Maha,

    mohon info untuk code atau rules yg digunakan untuk pembangunan LNG storage baik di offshore maupun onshore??mohon info dan guidelinenya.

    suwun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s