Sketsa Konsep FLNG

Posted: Agustus 12, 2011 in Marine, Oil & Gas
Tag:, , , , , , ,

LNG Value Chain


Gas Production :
Sebagai tahap awal proses gas alam di keluarkan dari lapangan gas dan di alirkan melalui pipa ke plant liquefaction di darat.

Liquefaction & Storage :
Di Liquefaction Plant, gas didinginkan menjadi liquid hingga 160ᵒC dan di simpan di dalam tangki untuk menunggu pengapalan.

Shipping :
Gas Cair dialirkan ke dalam LNG tanker dan dilayarkan pada tekanan atmosfir. Suhu pada LNG dipertahankan pada -161ᵒC.

Regasification Terminal :
Di Regasification terminal, LNG dipompakan dari kapal ke fasilitas penerima di darat, disimpan, dan dan dikembalikan kedalam bentuk gas, untuk selanjutnya dialirkan melalui pipa ke pihak pengguna.

Apa itu FLNG?
FLNG adalah LNG FPSO (Floating, Production, Storage, dan Offloading System), dimana kapal dibangun sebagai suatu fasilitas mandiri yang dapat menerima gas dari subsurface, melakukan processing (pengolahan, pemisahan, dan pencairan), penyimpanan, dan off-loading di suatu lapangan gas di laut.

FLNG diharapkan akan menjadi teknologi penting bagi portfolio operator produksi di offshore. Hingga saat ini belum ada satu pun Fasilitas FLNG yang telah dioperasikan di seluruh dunia.

Fasilitas FLNG akan di tambatkan di lokasi lapangan gas selama masa produksi lapangan tersebut. Dia akan ditempatkan secara permanent selama fase operasi berlangsung.

Fasilitas FLNG termasuk diantaranya FSRU (Floating Storage Regasification Unit) dan SRV (Shuttle and Re-Gasification Vessel). FSRU menerima LNG dari LNG tanker convensional, menyimpan, dan mengembalikan LNG ke bentuk gas (re-gasify) sebagai terminal LNG offshore. Sedangkan SRV re-gasify dan membongkar muatannya di laut lepas pada suatu remote buoy memanfaatkan pipa bawah laut. Baik keduanya FSRU dan SRV tidak memiliki fasilitas proses liquefaction seperti halnya FLNG, tetapi telah banyak beroperasi di beberapa negara sehingga memiliki track record.

Kenapa FLNG?
Perdagangan LNG diprediksi akan berkembang di beberapa kawasan seiring dengan meningkatnya kebutuhan impor LNG di Asia dan Eropa. Menurunnya biaya dalam proses liquefaction merupakan pendorong utama dari Boom LNG di awal tahun 2000an, tetapi di sisi lain biaya pembangunan plant LNG telah meningkat beberapa tahun belakangan, overrun biaya dan keterlambatan proyek menjadi hal yang biasa terjadi dalam proyek pembangunan LNG onshore.

FLNG merupakan pengembangan penting dalam industri LNG karena akan mengurangi baik biaya proyek dan dan dampak lingkungan.

Berbagai tantangan dari sisi geopolitis dan isu lingkungan telah memperlambat pengembangan lapangan-lapangan besar yang tersisa, dengan demikian pengembangan lapangan-lapangan skala sedang dan marginal mulai menarik perhatian. Saat ini di berbagai belahan dunia banyak sekali ditemukan potensi lapangan gas dengan skala kecil dan dan bersifat remote area yang mungkin dikembangkan melalui pipeline atau fasilitas liquefaction LNG onshore, namun keinginan tersebut berkembang dengan adanya wacana pengembangan utilisasi fasilitas LNG FPSO terapung (FLNG).

FLNG vs Onshore Plant
Fasilitas LNG Onshore untuk lapangan gas offshore umumnya meliputi :

  • Offshore Production Platform
  • Pipeline jarak jauh dan tangki penampungan di darat
  • Berth, Jetty, dan Breakwaters
  • Proses perijinan yang panjang untuk pembangunan berbagai fasilitas di darat
  • Mobilisasi konstruksi dalam jumlah besar
  • Perlu kepastian keekonomian yang benar-benar memadai untuk cadangan gas yang tersedia

Dari beberapa faktor diatas, opsi menggunakan FLNG memberikan pilihan yang lebih murah.

Untuk lapangan gas offshore yang relative kecil dan terpencil, pengembangan lapangan dengan menggunakan teknologi FLNG dimana gas akan diproses secara langsung diatas fasilitas terapung tepat dimana lapangan gas tersebut berada, merupakan pilihan yang layak diperhitungkan. Para perusahaan pemilik proyek kini mengharapkan teknologi FLNG semakin murah dan pembangunannya semakin cepat bila dibandingkan dengan membangun fasilitas liquefaction onshore, mengurangi dampak kerusakan lingkungan dan memberikan gambaran keekonomian yang semakin baik dalam pengembangan lapangan dengan cadangan kecil.

Pembangunan fasilitas dilaut juga dapat mengurangi dampak buruk dari sisi resiko keamanan, sehingga semakin memperkuat keinginan beberapa calon operator untuk menggunakan konsep FLNG walaupun cadangan gas yang ada berada di darat.

Potensi Cadangan Gas Untuk FLNG
Beberapa tahun terakhir sejumlah konsep proyek FLNG dikemukakan di beberapa negara. Kunci utama dari cadangan gas yang cocok untuk FLNG adalah berada di beberapa daerah offshore kaya akan kandungan gas yang tersebar di berbagai belahan dunia (seperti tergambar dibawah), salah satunya adalah kawasan Australasia, termasuk kawasan yang yang paling menarik bagi para pengembang FLNG.

Proposal FLNG di Kawasan Australasia


Proyek FLNG di wilayah Australia barat yang sedang dalam proses pengembangan diantaranya Shell’s Prelude, Inpex’s Abadi (Indonesia), dan Woodside’s Greater Sunrise.

Prelude saat ini berada di posisi terdepan karena telah memulai proses FEED (2011) dan Shell merupakan perusahan yang memimpin proyek tersebut.

Beberapa Proposal Proyek Pengembangan FLNG


Shell – Prelude

INPEX – Abadi Field

FLEX dan BW Offshore

SBM dan HOEGH

Summary
Di berbagai kawasan, beberapa lapangan gas offshore dengan cadangan gas relative kecil dan bersifat remote area akan dikembangkan melalui konsep pipeline atau fasilitas liquefaction LNG onshore. Pada kondisi tersebut kini konsep FLNG memberikan alternative solusi yang inovatif untuk pengembangan lapangan dimaksud, dengan tawaran efektifitas biaya proyek yang lebih baik dan potensi yang minim terhadap kerusakan lingkungan.

  • Kini kawasan Australasia merupakan kawasan yang paling menarik perhatian para pengembang konsep FLNG. Proyek FLNG di kawasan barat Australia antara lain Shell’s Prelude, Inpex’s Abadi Field, dan Woodside’s Greater Sunrise.
  • Kecenderungannya, berbagai pelaku industri ini masih saling menunggu satu sama lain sebagai pemain yang pertama di FLNG. Suatu ketika proyek pertama berhasil (de-risked), maka kemungkinan implementasi darin beberapa proyek lain diprediksi akan berkembang.
  • Konsep FLNG memiliki beberapa keuntungan suatu ketika teknologinya berhasil diaplikasikan (de-risked), diantaranya:
  1. Sistem EPCI yang terkontrol dengan baik
  2. Minim impact terhadap potensi kerusakan lingkungan
  3. Minim impact terhadap kemungkinan gesekan dengan masyarakat sekitar.
  4. Seperti layaknya konsep FPSO, secara desain FLNG bisa digunakan kembali (mobile re-usable) ke tempat lain, setelah masa operasinya di suatu lapangan selesai.
  • Keterbatasan pengembangan konsep FLNG adalah diprediksi kapal terbesar baru hanya akan mampu untuk menampung dan memproses LNG dengan kapasitas sekitar 5 MMTPA.
Komentar
  1. aryawan mengatakan:

    info yg luar biasa bli,
    trimakasih sudah di share minimal dapat wawasan baru ttg LNG ini

  2. Alvin A mengatakan:

    Bli Putu,

    Pada saat liquefaction suhunya -160degC bukan 160 degC kan ?

  3. rezharejha mengatakan:

    terima kasih banyak ilmunya cak, sangat membantu
    rezha, teknik kelautan ITS

  4. Johan mengatakan:

    Iya, saya liat program ttg energi di nhk tv, metode ini berkembang di australia.
    Indonesia mengejar.

  5. berthy mengatakan:

    pernah dengar tentang Kasuri FLNG atau EXMAR FLNG di Colombia?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s